Laba TINS Q3 2012 turun 57% YoY menjadi Rp 370 miliar, akan bangun PLTU 2x8 MW bersama PTBA
Laba Timah (TINS) triwulan III 2012 turun 57% YoY menjadi Rp 370 miliar dari Rp 860 miliar. Produksi perseroan juga turun. Pendapatan bersih turun menjadi Rp 1,87 triliun dari periode sebelumnya Rp 1,98 triliun. Penerimaan penjualan hingga akhir September 2012 sebesar Rp 6,009 triliun atau turun 12% dari realisasi pendapatan tahun 2011 Rp 6,816 triliun. Penurunan pendapatan dan laba bersih Timah pada triwulan III 2012 disebabkan oleh beredarnya bijih timah ilegal di pasaran timah Indonesia, sehingga mendorong jatuhnya harga logam timah. Selain itu ada terpengaruh turunnya harga logam timah di pasar dunia. r Timah (TINS) menaikkan capex menjadi Rp 2 triliun tahun depan, meningkat 45% dari tahun ini sebesar Rp 1,38 triliun, guna mendukung serangkaian akuisisi strategis. Perseroan akan mengakuisisi tambang timah di Myanmar senilai Rp 172,62 miliar, serta 2 tambang batubara di luar Jawa yaitu Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan senilai Rp 500 miliar. Tambang di Kalimantan memiliki cadangan batubara sekitar 25 juta ton dengan kalori diperkirakan di atas 6.000 kkal, sedangkan batubara di tambang Sumatera Selatan berkalori rendah dengan cadangan sekitar 90 juta ton. r Timah (TINS) mengucurkan investasi sebesar Rp 217 miliar untuk melakukan modifikasi alat operasionalnya dengan mengubah kapal keruk menjadi kapal hisap isap untuk memudahkan proses operasionalnya. Pembangunan ini dilakukan guna mengefisiensikan proses produksi timah. Dia menjelaskan, perseroan akan melakukan modifikasi. r Timah (TINS) berencana membatasi produksi timah sebanyak 29.000 ton - 30.000 ton pada tahun 2012 dibandingkan 38.132 ton pada 2011 seiring dengan rendahnya harga komoditas mineral dan penghematan biaya demi memperbesar laba. Volume produksi tahun 2013 diperkirakan sama. Penjualan logam timah tahun 2012 diprediksi 34.000 - 35.000 ton dari 33.971 ton pada 2011. Perseroan menargetkan penjualan tahun 2013 naik menjadi 36.000 ton - 37.000 ton. Perseroan memperkirakan harga jual rata-rata tahun 2012 hanya USD 21.000 per ton, turun dibandingkan USD 26.714 per ton pada 2011. Harga pada tahun 2013 diprediksi tidak banyak berubah yaitu di kisaran USD 22.000-USD 23.000 per ton. Rata-rata biaya produksi timah per ton pada tahun 2012 di kisaran USD 16.000-USD 17.000. Perseroan pada tahun 2013 berencana melakukan efisiensi biaya produksi hingga menjadi USD 15.000 per ton, dengan cara antara lain menperasikan kapal bucket wheel dredge (BWD) yang merupakan modifikasi dari kapal keruk. r Timah (TINS) berencana melakukan ekspansi dengan menambang timah di Myanmar seluas 10 ribu ha selama beberapa tahun (multiyears) dengan total investasi USD 18 Juta. Saat ini proyek tersebut memasuki masa penjajakan perizinan dengan pemerintah dan sedang menyiapkan dokumen guna melegalkan ekspansi perusahaan, tetapi telah memiliki izin prinsip. TINS menargetkan sudah mulai bereksploitasi pada tahun 2013 dan dapat berproduksi pada 2014. Timah juga akan membangun pengelolaan pemurnian tetapi masih menunggu pertimbangan eksploitasi atau langsung membangun sebelum eksplorasi. r Timah (TINS) mencari cara untuk mengatasi kenaikan ongkos produksi yang sudah terasa tahun ini. Perseroan akan menurunkan produksi tahun 2013 dan akan menggandeng Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) untuk memenuhi kebutuhan energi tambang timah di Bangka Barat. TINS dan PTBA akan membangun PLTU baru dengan total investasi senilai Rp 450 miliar dan akan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan output listrik sebesar 2 x 8 MW. Tahun 2013 TINS akan meneruskan proyek pengembangan produksi yang sempat tertunda di tahun 2012 yaitu pengadaan Bucket Wheel Dredge (BWD). BWD adalah proyek penggantian teknologi Bucket Chain Dredge agar dapat meningkatkan kedalaman penggalian mencapai 70 meter, sehingga akan meningkatkan produksi. Nilai investasinya sebesar Rp 425 miliar dan dimasukkan pada capex tahun 2013