Back
Consumer

INDF - Boosted by strong CPO prices

Devi Harjoto, Alfiansyah 06 April 2022

Laba bersih INDF tumbuh 18,4% YoY pada 2021 menjadi Rp7,6 triliun Pendapatan diperkirakan tumbuh 5% YoY pada 2021 dan 6% YoY pada 2022 Rekomendasi “BUY” dengan target harga Rp7.875 per saham Performa laba bersih berhasil dipertahankan Laba bersih INDF meningkat 18,4% YoY pada 2021 menjadi Rp7,64 triliun (+13,0% QoQ). Kenaikan laba bersih tersebut didorong oleh pendapatan yang naik 21,6% YoY pada 2021 menjadi Rp99,4 triliun (+4,0% QoQ). Kemudian, GPM cenderung flattish pada 32,7% pada 2021, kendati beban pokok naik 21,7% YoY. Kemudian, beban operasional meningkat 17,2% YoY pada 2021 terutama akibat kenaikan beban penjualan dari distribusi dan freight. Meski demikian, INDF berhasil menjaga margin tetap kuat pada 17,0% pada 2021, naik dibandingkan 16,5% pada 2020. Adapun, INDF mencatatkan penurunan pendapatan keuangan 77,6% YoY, sementara itu beban keuangan juga meningkat 53,8% YoY. Sementara itu, net gearing stabil di 0,86x pada 2021. Kenaikan harga CPO menjaga margin tetap stabil Pertumbuhan net sales INDF pada 2021 ditopang oleh segmen konsumer yang meningkat 21,3% YoY dengan kontribusi mencapai 53,0%. EBIT margin produk konsumer cenderung naik dari 11,2% pada 2020 menjadi 11,6% pada 2021. Disusul oleh segmen agribisnis yang tumbuh 35,3% YoY, ditengah kenaikan harga CPO global. Margin segmen agribisnis juga naik signifikan dari 6,5% pada 2020 menjadi 12,5% pada 2021, yang juga diikuti oleh peningkatan kontribusi terhadap pendatapan INDF dari dari 16,3% pada 2020 menjadi 18,3% pada 2021. Kenaikan dari segmen agribisnis ini menjaga margin INDF secara keseluruhan tetap stabil. Kemudian, segmen Bogasari tumbuh 12,7% YoY pada 2021, tetapi margin segmen cenderung turun dari 3,8% pada 2020 menjadi 3,3%. Akan ditopang oleh segmen agribisnis Kami memperkirakan pertumbuhan INDF dapat mencapai 5% YoY pada tahun ini, yang ditopang oleh agribisnis dan consumer. Kami memprediksi EBIT margin untuk segmen agribisnis dapat meningkat bertahan diatas 10% pada 2022 ditengah peningkatan harga CPO mengingat masih tingginya harga minyak bumi karena konflik di Eropa Timur, supply yang terbatas karena cuaca yang menantang, dan peningkatan permintaan terhadap vegetable oil di pasar global. Adapun, India juga telah mereduksi bea impor CPO. Namun, kami memprediksi ada peluang untuk koreksi harga CPO pada 1H22. Sehingga, kami merevisi keatas harga ASP CPO tahun ini menjadi RM4.500. Kami melihat aturan DMO/DPO berpengaruh terbatas bagi INDF karena mayoritas pasokan untuk afiliasi. Sedangkan, untuk consumer, kami melihat peningkatan harga komoditas pangan terutama gandum dapat berpengaruh negative terhadap margin. Adapun, kami mencatat daya beli masyarakat yang tengah pulih dapat berpotensi tertekan karena inflasi tinggi. Rekomendasi BUY ditengah daya beli yang menguat Kami merekomendasikan “BUY” saham INDF ini dengan target harga Rp7.875 per saham, yang merefleksikan PER 2022E berada pada 6.93x. Rekomendasi kami telah memfaktorisasi 1) permintaan yang cenderung resilient untuk produk consumer dan bogasari; 2) harga CPO yang tetap bullish sehingga menopang performa segmen agribisnis; 3) pangsa pasar yang besar dan 4) leverage yang cenderung terkendali. Namun, kami melihat resiko dari 1) peningkatan harga komoditas terutama pangan dan energy dapat menekan margin segmen konsumer; 2) koreksi harga CPO yang sudah tinggi; 3) persaingan untuk produk-produk consumer dan 4) potensi pelemahan daya beli karena inflasi yang lebih tinggi.

Download

Related Article

INDF - Indofood Sukses Makmur
INDF belum akan melakukan penyesuaian harga
20 August 2014 See Detail
INDF - Indofood Sukses Makmur
Indofood Sukses Makmur telah menandatangani Perjanjian Jual beli...
See Detail
INDF - Indofood Sukses Makmur
Laba 9M21 INDF naik 44% YoY, penjualan naik 24% YoY
01 December 2021 See Detail