LPKR - Performa kuartal pertama 2022
Realisasi marketing sales LPKR 1Q22 sebesar 23,2% dari target 2022
Pendapatan turun seiring melemahnya development revenue dan recurring income
Kami memberikan rekomendasi BUY dengan target harga Rp140/saham seiring tingkat permintaan dan take up rate yang baik
LPKR bukukan marketing sales 1Q22 Rp1,2 triliun LPKR membukukan marketing sales sebesar Rp1,2 triliun hingga tiga bulan pertama tahun 2022, setara dengan 23,2% dari target hingga akhir tahun 2022 sebesar Rp5,2 triliun. Mayoritas marketingsales tersebut dikontribusikan oleh penjualan rumah tapak yang diperuntukkan bagi pembeli rumahpertama. Pada Februari 2022, LPKR meluncurkan Cendana Cove Verdant, sebagai kelanjutan dari Cendana Cove di Lippo Village. Permintaan dari konsumen di segmen rumah pertama ini masih relatif solid yang tercermin dari terjualnya 252 unit rumah hanya dalam waktu beberapa jam saat peluncuran. Di bulan Maret 2022, LPKR meluncurkan proyek rumah tapak dengan harga jual yanglebih tinggi sekitar Rp4,1 miliar yakni Brava Homes di Lippo Village. Sebanyak 12 unit dapat terjual dalam hari pertama peluncuran produk tersebut. Secara keseluruhan, sepanjang 1Q22, Lippo Villagemembukukan prapenjualan sebesar Rp603 miliar, turun 15% YoY seiring dengan peluncuran perdanamega kluster residensial di Cendana Icon pada 1Q21. Di kawasan Cikarang, perseroan melalui LippoCikarang (LPCK) juga meluncurkan kluster baru di Waterfront Estates yakni Tanamera yang terdiri dari 63 ruko dan kluster residensial keempat yaitu Uptown. Hampir 58% unit terjual dari total 695 unit. Secara keseluruhan, pada 1Q22, prapenjualan di Cikarang turun 13,4% YoY menjadi Rp330 miliar. Development revenue dan recurring income turun 14,0% YoY dan 11,4% YoY Pelemahan development revenue dan recurring income masing-masing sebesar 14,0% YoY dan 11,4%YoY menjadi Rp865 miliar dan Rp2,5 triliun menyebabkan turunnya pendapatan pada kuartal pertama tahun ini. Pelemahan development revenue disebabkan oleh turunnya pendapatanapartemen sebesar 46,2% YoY seiring turunnya jumlah unit yang diserahterimakan. Sementarapelemahan recurring income disebabkan oleh terjadinya peralihan dari kondisi angka pasien Covid-19yang tinggi pada tahun lalu ke kondisi saat ini yang telah membaik bahkan berangsur-angsur menjadi endemi. Sedangkan pendapatan dari pasien non Covid cukup baik sehingga pendapatan segmenrumah sakit hanya mengalami penurunan 3,3% YoY menjadi Rp2,5 triliun pada 1Q22. Kontribusi recurring income terhadap total pendapatan naik dari 73,5% pada 1Q21 menjadi 74,1% pada 1Q22. LPKR bukukan rugi bersih 1Q22 Rp568 miliar Pendapatan bersih LPKR turun 9,8% YoY menjadi Rp3,3 triliun sepanjang kuartal pertama tahun 2022. GPM perseroan meningkat dari 39,9% pada 1Q21 menjadi 40,6% pada 1Q22 yang disebabkan olehturunnya beban pokok apartemen sebesar 50,7% YoY seiring turunnya penjualan produk tersebut. Sedangkan OPM turun dari 10,2% pada 1Q21 menjadi 7,8% pada 1Q22 yang disebablan olehlemahnya pendapatan serta naiknya beban iklan dan pemasaran sebesar 12,9% YoY. Sementara itu, pada 1Q22 perseroan tidak membukukan laba atas kombinasi bisnis dan kenaikan nilai atas investasi DINFRA dari sebelumnya masing-masing sebesar Rp778 miliar dan Rp121 miliar pada 1Q21. Untukitu, LPKR membukukan rugi bersih sebesar Rp568 miliar pada 1Q22 dari sebelumnya laba bersihsebesar Rp256 miliar pada 1Q21. Kami memberikan rekomendasi BUY dengan target harga Rp140/saham Membaiknya kondisi pandemi Covid-19 menjadi endemi memiliki dua dampak bagi LPKR. Di satu sisi, volume pasien dari segmen healthcare mengalami penurunan sejalan dengan tingginya pasien Covidsaat pandemi lalu. Namun di sisi lain, pasien non Covid berada dalam level yang membaik seiringterus meningkatnya tingkat kunjungan pasien. Disamping itu, okupansi dari segmen lifestyle jugaterus mengalami perbaikan kendati belum mencapai level sebelum pandemi. Di sisi lain, kami mempertimbangkan rencana kenaikan tingkat suku bunga yang akan mempengaruh industri properti. Ditambah juga, profil jenis pembayaran konsumen LPKR mayoritas (69,9% per 1Q22) menggunakankredit perbankan sehingga akan berdampak pada kenaikan cicilan. Salah satu fokus perseroan padasegmen rumah pertama, juga akan menjadi pertimbangan atas kenaikan tingkat suku bunga ini. Untuk itu, kami menurunkan target harga LPKR dari Rp150/saham menjadi Rp140/saham dan tetapmemertahankan rekomendasi BUY seiring masih solidnya permintaan dan take up rate yang baik.
Download