Back
Consumer

ICBP - Challenged by higher material costs

Devi Harjoto, Alfiansyah 07 April 2022

Laba bersih ICBP berkurang 3,0% YoY pada 2021 menjadi Rp6,4 triliun Kenaikan ASP dapat mendorong kenaikan pendapatan 10% YoY pada 2021 Rekomendasi “BUY” dengan target harga Rp9.500 per saham Penurunan laba bersih dari peningkatan beban keuangan Laba bersih ICBP turun 3,01% YoY pada 2021 menjadi Rp6,39 triliun (-18,8% QoQ). Penurunan laba bersih ICBP disebabkan oleh peningkatan beban keuangan 193,2% YoY pada 2021 menjadi Rp1,97 triliun setelah adanya akuisisi Pinehill. Adapun, pendapatan ICBP naik 21,8% YoY pada 2021 menjadi Rp56,8 triliun (-1,7% QoQ). Sementara itu, GPM berkurang dari 36,9% pada 2020 menjadi 35,7% pada 2021. ditengah kenaikan beban pokok yang lebih tinggi 24,2% YoY seiring dengan peningkatan bahan mentah. Kemudian, beban operasional naik 7,4% YoY pada 2021 utamanya akibat peningkatan beban distribusi dan transportasi. Akan tetapi, margin operasional meningkat dari 19,7% pada 2020 menjadi 20,5% pada 2021. Meski utang meningkat, net gearing bertahan pada 0,62x pada 2021, atau terhitung solid. Terdampak kenaikan bahan baku Segmen mie instan yang tumbuh 28,2% YoY pada 2021 menjadi faktor utama kenaikan pendapatan ICBP, dengan kontribusi yang terus meningkat dari 66,1% pada 2020 menjadi 69,8%. Kemudian, margin segmen mie instan juga melebar dari 23,2% pada 2020 menjadi 24,3% pada 2021. Kemudian, segmen produk dairy juga tumbuh 10,1% YoY pada 2021, dengan kontribusi mencapai 15,6%, turun dibandingkan 17,2% pada 2020. Akan tetapi, margin segmen dairy jatuh dari 12,0% pada 2020 menjadi 8,5% pada 2021, akibat kenaikan bahan baku. Sementara, segmen makanan ringan bertumbuh 15,7% YoY pada 2021, dengan kontribusi menurun dari 6,1% pada 2020 menjadi 5,8%. Margin segmen makanan ringan berkurang dari 11,1% pada 2020 menjadi 9,3% pada 2021. Performa diproyeksikan membaik, pulihnya harga komoditas pangan Kami memproyeksi pertumbuhan ICBP dapat mencapai 10% YoY pada tahun ini, yang ditopang oleh segmen utama seperti mie instan dan produk dairy. Kami memandang ASP berpeluang untuk tumbuh lebih tinggi ditengah rilis produk juga membaiknya daya beli masyarakat yang masih dalam area optismistis. Namun, kami melihat adanya resiko kenaikan bahan baku terutama dari gandum setelah invasi Rusia atas Ukraina karena gangguan supply. Ditambah dengan kenaikan tajam harga komoditas energy dan pangan lainnya yang mendorong beban pokok, sehingga, berpotensi dapat menekan margin ICBP. Secara bottom line, kami memperkirakan laba bersih ICBP akan naik lebih moderat mengingat masih tingginya beban keuangan tahun ini setelah adanya dampak akusisi PCL. Di sisi lain, kami melihat adanya resiko daya beli yang tertekan karena peningkatan inflasi YoY tahun ini. Rekomendasi BUY ditengah penguasaan pangsa pasar produk mie instan Kami merekomendasikan “BUY” dengan target harga Rp9.500 per saham, yang merefleksikan valuasi 2022E pada 11,89x. Rekomendasi kami telah memfaktorisasi 1) brand ICBP yang kuat dengan penguasaan pangsa pasar lebih dari 60% untuk produk mie instan yang cenderung defensive; 2) pemulihan daya beli seiring membaiknya mobilitas dan penurunan kasus covid-19; dan 3) peningkatan ASP . Adapun, kami mencatat beberapa resiko diantaranya 1) kenaikan biaya bahan baku dan komoditas pangan dapat menghimpit margin terutama untuk segmen non- mie instan; 2) volatilitas kurs yang cukup tinggi ; 3) intensitas persaingan di produk-produk staple dari brand lain; dan 4) potensi pelemahan daya beli karena tingginya inflasi.

Download

Related Article

ICBP - Indofood CBP Sukses Makmur
ICBP berencana terbitkan global bond
19 October 2021 See Detail
ICBP - Indofood CBP Sukses Makmur
Laba bersih ICBP meningkat 10% YoY pada 2019
23 March 2020 See Detail
ICBP - Indofood CBP Sukses Makmur
Laba ICBP Q1 2022 tumbuh 12% YoY
02 June 2022 See Detail